Krisis Ekologis dan Tantangan Dakwah di Era Algoritma

Muhammad Kholis (Da'i Digital Muhammadiyah)


Krisis ekologis saat ini bukanlah lagi menjadi sebuah ancaman dimasa yang akan datang, melainkan sebuah realitas yang sedang kita hadapi saat ini. Kita tentu sudah melihat sebuah fenomena yang sungguh membuat sedih dan haru Indonesia, saat sumatera terutama aceh,sumatera utara dan sumatera barat dilanda banjir bandang dan tanah longsor yang sangat luar bisa, yang mengakibatkan ribuan orang meninggal, ratusan orang masih belum ditemukan, ratusan ribu masyarakat mengungsi, dan ratusan hingga ribuan rumah sudah luluh lantah dan rata dengan tanah. 

Kita ikut prihatin dan sangat terpukul dengan kejadian tersebut, namun yang menjadi persoalan di era digital saat ini adalah, kita ikut membagikan berita tersebut, lalu perlahan lupa. Beberapa hari kemudian linimasa media sosial kita dipenuhi Kembali dengan konten konten hiburan, tren viral dan konten hiburan lainnya yang menjadi FYP media sosial. Di era digital, krisis ekologis tidak hanya berhadapan dengan alam yang rusak, tetapi juga dengan perhatian manusia yang mudah teralihkan. 

Media sosial bukan menampilkan suatu konten itu secara acak, ada yang Namanya algoritma di balik layar, yang memilihkan dan menampilkan apa yang sering kita lihat dan tonton. Konten lucu, menghibur, dan ringan menjadi sebuah konten yang seringkali disukai dan muncul, sementara itu konten edukasi lingkungan dan edukasi lainya kerapkali tenggelam. Penelitian The Guardian (2018) menyebut masyarakat memeriksa ponsel tiap 12 menit. Data Goodstats menunjukkan 42,16% pengguna lebih menyukai konten hiburan, sedangkan konten edukasi hanya 18,63%, sisanya terbagi pada musik, tutorial, dan lainnya.

Bukan berarti masyarakat tidak peduli pada banjir atau kerusakan alam. Masalahnya, perhatian kita terus dipindahkan dari satu topik ke topik lain. Akibatnya, krisis ekologis dipahami sebagai peristiwa sesaat, bukan masalah besar yang harus diselesaikan bersama. Padahal, banjir di Sumatera berkaitan erat dengan pembukaan hutan, tambang, alih fungsi lahan, dan tata kelola lingkungan yang lemah. Jika akar masalah ini tidak dibahas, banjir akan terus berulang. 

Hiburan bukan sesuatu yang salah. Setiap orang butuh jeda dari rutinitas dan tekanan hidup. Islam pun tidak melarang manusia untuk bergembira. Namun, masalah muncul ketika hiburan membuat kita lupa pada tanggung jawab sosial. Ketika bencana hanya menjadi tontonan, empati pun menjadi singkat. Kita sedih sebentar, lalu kembali tertawa melihat video hiburan berikutnya. Perlahan, rasa peduli menipis. Inilah yang perlu disadari bersama.

Dalam Islam, manusia disebut sebagai khalifah di bumi. Artinya, manusia diberi amanah untuk menjaga dan merawat alam, bukan merusaknya. Al-Qur’an mengingatkan bahwa kerusakan di darat dan laut terjadi karena perbuatan manusia sendiri. Islam juga mengajarkan keseimbangan (MIZAN). Seimbang artinya, antara bekerja dan beristirahat, antara hiburan dan kepedulian, antara menikmati dunia dan menjaga kehidupan bersama.  Terlalu tenggelam dalam hiburan hingga menutup mata dari penderitaan lingkungan adalah bentuk kelalaian yang perlu dikoreksi. 

Di sinilah dakwah menghadapi tantangan baru. Dai hari ini tidak hanya berbicara di mimbar, tetapi juga di media sosial dan mengikuti perkembangan zaman. Pesan dakwah harus bersaing dengan banyak konten lain yang lebih ringan dan menghibur. Namun, tantangan ini tidak boleh membuat dakwah kehilangan arah. Justru dakwah harus hadir dengan bahasa yang mudah dipahami, dekat dengan kehidupan sehari-hari, dan menyentuh kesadaran. Dakwah tentang lingkungan perlu mengingatkan bahwa menjaga alam adalah bagian dari iman dan tanggung jawab bersama. Bagi Muhammadiyah, dakwah semacam ini sejalan dengan semangat Islam Berkemajuan dakwah yang tidak hanya mengajak beribadah, tetapi juga peduli pada masalah nyata umat dan masa depan bumi. 

Krisis ekologis akan terus mengancam jika kita hanya berhenti pada rasa prihatin sesaat. Era algoritma memang penuh distraksi, tetapi bukan alasan untuk terus lalai. Dakwah di era digital seharusnya mengajak kita berpindah dari sekadar scroll menuju peduli. Dari menikmati hiburan menuju kesadaran. Dari melihat bencana sebagai tontonan menjadi panggilan untuk bertindak. Karena menjaga bumi bukan hanya tugas pemerintah atau aktivis lingkungan, tetapi tanggung jawab kita semua sebagai manusia, sebagai umat beragama, dan sebagai khalifah di muka bumi.

Posting Komentar

0 Komentar

INASIS BSN Universiti Utara Malaysia Adakan Sawadikap Walailak: Student Empowerment