Dari Santri Salafi Menuju Duta Santri Nasional: Kisah Inspirasi Hayun yang Pantang Menyerah


Nur Warta Media - Menjadi seorang santri, bukan sekadar menuntut ilmu, tetapi juga melatih jiwa kemandirian dan keteguhan hati dalam menapaki jalan dalam berdakwah. Itulah yang dialami Hayun Halimatul Umah, seorang mahasiswi UIN Bandung yang dikenal aktif, percaya diri, dan baru-baru ini terpilih sebagai Duta Santri Nasional 2025. 

Perjalanan Hayun dimulai dari Pondok Pesantren Thoriqul Huda 2 Tasikmalaya, pesantren salafi dengan kajian kitab kuning yang menjadi fondasi spiritual dan intelektualnya selama enam tahun.

“Saya mondok dari MTS hingga lulus, dan dari sanalah saya belajar arti kesabaran, kedisiplinan, dan mencintai ilmu,” ujarnya. 


Sejak kecil, Hayun memiliki semangat dalam berdakwah, tepatnya saat ia menduduki bangku kelas 3 SD. Ia sudah terbiasa untuk tampil di hadapan umum berkat dorongan dari orang tuanya. Tidak heran, berbagai lomba dakwah dan orasi keagamaan pun kerap ia menangkan. 

“Bagi saya, dakwah itu suatu kewajiban, bukan beban. Justru melalui lomba, saya belajar banyak hal dan bisa membiayai kebutuhan kuliah tanpa harus merepotkan orang tua,” ungkapnya. 

Hayun mengaku bahwa setiap panggung adalah ruang belajar. Melalui pengalaman-pengalaman lomba yang pernah diikuti selama inilah yang membuat Hayun memberanikan diri mengikuti ajang Duta Santri Nasional. 


“Saya percaya bahwa nama Hayun bisa bergema di mana pun berada, asalkan niatnya baik dan usahanya sungguh-sungguh. Semoga Allah selalu memberkahi setiap langkah ini,” ujarnya dengan penuh harap. 

Saat ini, di tengah kesibukan sebagai Mahasiswa semester akhir, dan tengah berupaya untuk menyelesaikan skripsi dan amanah organisasi pesantren, Hayun terus berpegang teguh pada prinsip hidupnya: “Kalau mau hebat, harus nekat.”


Posting Komentar

0 Komentar

INASIS BSN Universiti Utara Malaysia Adakan Sawadikap Walailak: Student Empowerment